Masjid Raya Al-Jabbar: Arsitektur Terapung Ikon Baru Jawa Barat
dijazzradio.com – Pernahkah Anda membayangkan sebuah bangunan suci yang seolah-olah muncul begitu saja dari permukaan air, tanpa kubah bulat yang menjadi ciri khas tradisionalnya, namun tetap memancarkan aura spiritual yang kuat? Di pinggiran timur Kota Bandung, tepatnya di kawasan Gedebage, imajinasi itu menjelma menjadi nyata. Saat matahari terbenam dan lampu-lampu mulai menyala, pantulan bangunan ini di permukaan danau menciptakan pemandangan yang sanggup membuat siapa pun terdiam sejenak.
Masjid Raya Al-Jabbar bukan sekadar tempat bersujud; ia adalah pernyataan seni, teknologi, dan ambisi budaya masyarakat Jawa Barat. Sejak diresmikan pada akhir tahun 2022, bangunan ini langsung melesat menjadi ikon baru yang mengubah peta wisata religi di Indonesia. Namun, di balik kemegahannya yang sering viral di media sosial, ada narasi mendalam tentang arsitektur, filosofi, hingga tantangan sosial yang menyertainya.
When you think about it, membangun masjid di atas lahan seluas 25 hektar dengan danau retensi sebagai fondasi visualnya bukanlah perkara mudah. Ini adalah proyek “cinta” yang dirancang oleh Ridwan Kamil—saat itu menjabat sebagai Gubernur Jawa Barat—yang memadukan keahliannya sebagai arsitek dengan visi spiritualitas modern. Mari kita bedah apa yang membuat masjid ini begitu istimewa dan mengapa Anda harus mengunjunginya setidaknya sekali seumur hidup.
1. Arsitektur Tanpa Kubah yang Mendobrak Tradisi
Jika kebanyakan masjid di Indonesia mengadopsi kubah setengah lingkaran atau atap tumpang khas Nusantara, Masjid Raya Al-Jabbar tampil beda dengan bentuk atap tumpuk menyerupai sisik ikan atau deretan kelopak bunga yang geometris. Struktur ini sebenarnya merupakan kumpulan 27 struktur berbentuk kelopak yang melambangkan 27 kabupaten dan kota di Jawa Barat.
Secara teknis, atap ini terdiri dari ribuan lembar kaca berwarna yang disusun dengan presisi tinggi. Tanpa tiang tengah yang menghalangi pandangan di ruang utama, interior masjid terasa sangat lega dan agung. Tips bagi pengunjung: datanglah saat waktu salat Magrib. Cahaya lampu dari dalam yang menembus kaca berwarna akan menciptakan efek visual “permata bercahaya” yang sangat ikonik dari kejauhan.
2. Filosofi Hebat di Balik Nama Al-Jabbar
Nama Al-Jabbar tidak dipilih secara sembarangan. Dalam Islam, Al-Jabbar adalah salah satu dari Asmaul Husna yang berarti Maha Perkasa atau Maha Berkehendak. Namun, ada lapisan makna lain yang lebih lokal: “Jabbar” juga merupakan singkatan dari Jawa Barat.
Selain itu, Ridwan Kamil sering menyebutkan bahwa desain masjid ini terinspirasi dari rumus matematika Aljabar yang ditemukan oleh ilmuwan muslim Al-Khawarizmi. Simetri dan pola geometris yang rumit pada bangunan ini mencerminkan keteraturan semesta yang bisa dijelaskan lewat angka. Ini adalah pengingat bahwa agama dan sains tidak pernah benar-benar terpisah.
3. Museum Rasulullah: Edukasi Digital Kelas Dunia
Salah satu fasilitas yang membuat Masjid Raya Al-Jabbar unggul dibandingkan masjid lainnya adalah keberadaan Galeri Rasulullah dan Sejarah Islam di Nusantara yang terletak di lantai bawah. Ini bukan museum konvensional yang berdebu; ini adalah museum digital yang menggunakan teknologi video mapping, hologram, hingga diorama interaktif.
Pengunjung akan dibawa “menembus waktu” mulai dari zaman pra-Islam hingga penyebaran Islam di tanah Sunda. Insight penting: untuk masuk ke museum ini, Anda harus melakukan reservasi secara online melalui aplikasi Sapawarga. Kuotanya terbatas setiap hari, jadi pastikan Anda tidak datang “tangan kosong” hanya untuk kecewa karena tidak bisa masuk ke museum tercanggih di Jawa Barat ini.
4. Danau Retensi: Estetika yang Menyelamatkan Lingkungan
Mungkin Anda mengira danau yang mengelilingi masjid ini hanya untuk hiasan agar masjid terlihat “terapung”. Faktanya, danau ini adalah danau retensi Gedebage yang memiliki fungsi krusial sebagai pengendali banjir di kawasan Bandung Timur.
Dengan luas sekitar 6,9 hektar, danau ini menampung limpahan air hujan sebelum dialirkan ke sungai. Ini adalah contoh nyata bagaimana infrastruktur religi bisa bersinergi dengan solusi ekologi. Bayangkan Anda sedang beribadah, sementara di bawah sana, bangunan tempat Anda berpijak sedang bekerja melindungi ribuan rumah penduduk dari ancaman banjir. Cerdas, bukan?
5. Taman Tematik 25 Nabi yang Instagenic
Di area luar, Masjid Raya Al-Jabbar dikelilingi oleh taman-taman tematik yang menceritakan kisah 25 nabi. Setiap taman memiliki elemen desain yang mewakili mukjizat atau cerita dari nabi tersebut, seperti replika perahu untuk Nabi Nuh atau taman dengan elemen air untuk Nabi Musa.
Fasilitas ini menjadikan masjid ini ramah keluarga. Anak-anak bisa berlarian di taman sambil belajar sejarah kenabian. Tips pro: gunakan alas kaki yang nyaman karena area luar masjid ini sangat luas. Jika Anda membawa orang tua, tersedia fasilitas mobil buggy yang siap mengantar pengunjung dari area parkir menuju teras utama masjid.
6. Realitas Sosial: Antara Wisata dan “Piknik” yang Kelewat Batas
Nah, mari kita berikan sedikit jab halus pada fenomena yang sering terjadi di sini. Karena keindahannya, banyak orang lupa bahwa ini adalah tempat ibadah, bukan taman bermain atau tempat piknik keluarga lengkap dengan rantang makanan. Masalah sampah dan pedagang kaki lima yang tidak teratur sempat menjadi sorotan tajam di awal pembukaannya.
Meskipun pengelola kini jauh lebih ketat, kesadaran pengunjung tetap menjadi kunci. Imagine you’re sedang mencoba khusyuk berdoa, namun terganggu oleh suara teriakan atau aroma makanan yang tajam. Mari menjadi wisatawan religi yang beradab: simpan makanan Anda untuk dimakan di area luar yang sudah disediakan, dan selalu bawa kembali sampah Anda. Keindahan Masjid Raya Al-Jabbar adalah tanggung jawab kolektif kita, bukan hanya petugas kebersihan.
Kesimpulan
Masjid Raya Al-Jabbar telah berhasil membuktikan bahwa arsitektur modern bisa bersanding mesra dengan nilai-nilai spiritualitas dan fungsi lingkungan. Ia bukan sekadar gedung beton yang megah, melainkan kebanggaan kolektif yang mencerminkan wajah Jawa Barat yang religius namun tetap progresif.
Sudahkah Anda merencanakan kunjungan ke sini akhir pekan ini? Entah itu untuk beribadah, belajar sejarah di museum, atau sekadar mengagumi arsitekturnya yang spektakuler, pastikan Anda datang dengan niat yang baik dan sikap yang tertib. Masjid ini menunggu Anda untuk menceritakan rahasia keindahannya di bawah langit Bandung yang sejuk.