dijazzradio.com – Bayangkan Anda sedang berada di jantung Jawa Timur, wilayah yang dikelilingi oleh hiruk-pikuk kehidupan santri dan pesantren yang kental. Namun, di tengah mayoritas perkampungan Muslim tersebut, Anda justru disambut oleh aroma dupa yang menenangkan dan salah satu patung Buddha terbesar di benua Asia. Terdengar kontradiktif?
Coba pikirkan sejenak. Bagaimana bisa sebuah kompleks peribadatan Buddha berdiri megah, aman, dan menjadi magnet pariwisata di lingkungan yang secara demografi sangat berbeda? Jawabannya ada pada warisan DNA leluhur Nusantara yang menolak untuk luntur oleh zaman.
Menyaksikan Toleransi di Trowulan: Maha Vihara Mojopahit dan Patung Buddha Tidur secara langsung bukanlah sekadar wisata visual biasa. Ini adalah perjalanan napak tilas untuk melihat bagaimana semboyan Bhinneka Tunggal Ika benar-benar dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu, mari kita bedah keunikan, sejarah, dan pesona dari mahakarya akulturasi di tanah bekas ibu kota Majapahit ini.
1. Berdiri Megah di Tengah Masyarakat Mayoritas Muslim
Ketika Anda memarkir kendaraan di sekitar area vihara, Anda akan melihat sebuah pemandangan yang menghangatkan hati. Ibu-ibu berhijab dengan ramah menawarkan suvenir dan minuman dingin kepada para biksu dan wisatawan dari berbagai daerah.
-
Fakta & Data: Maha Vihara Mojopahit dibangun pada tahun 1987 oleh Banthe Viriyanadi Mahathera di atas lahan seluas 20.000 meter persegi di Desa Bejijong, Kecamatan Trowulan, Mojokerto. Sejak awal peletakan batu pertama hingga kini, hampir tidak pernah tercatat adanya gesekan dengan warga lokal.
-
Insight Sosial: Interaksi warga Desa Bejijong adalah contoh murni dari simbiosis mutualisme. Tips untuk Anda: Luangkan waktu untuk jajan di warung sekitar vihara. Selain harganya murah, sapaan ramah warga lokal akan membuat pengalaman liburan Anda jauh lebih berkesan.
2. Sang Buddha Raksasa: Terbesar Ketiga di Asia
Tentu saja, magnet utama dari vihara ini adalah wujud sang Buddha yang sedang terbaring santai. Ukurannya yang masif sering kali membuat pengunjung menahan napas saat pertama kali melihatnya.
-
Fakta & Data: Patung raksasa ini memiliki panjang 22 meter, lebar 4,5 meter, dan tinggi 4,5 meter. Dibangun pada tahun 1993, patung ini kemudian dilapisi cat emas berkilau pada tahun 2001. Monumen ini resmi tercatat sebagai patung Buddha tidur terbesar ketiga di Asia, setelah Thailand dan Nepal.
-
Tips Fotografi: Pantulan cahaya dari cat emas patung ini bisa sangat menyilaukan di siang bolong. Oleh sebab itu, waktu terbaik untuk memotret adalah pada pukul 07.00 pagi atau setelah pukul 15.30 sore, saat cahaya matahari sedang lembut (golden hour).
3. Makna Filosofis: Bukan Sekadar “Rebahan” Biasa
Mari kita luruskan sebuah miskonsepsi yang sering terjadi. Banyak turis awam yang bercanda dan mengira sang Buddha sedang asyik tidur siang atau rebahan karena lelah. Padahal, filosofinya sangatlah sakral dan mendalam.
-
Fakta & Data: Pose ini secara teologis disebut sebagai Rupang Buddha Mahaparinibbana. Posisi berbaring miring ke kanan dengan kepala bertumpu pada telapak tangan ini menggambarkan momen detik-detik terakhir Siddhartha Gautama sebelum memasuki Nirwana (wafat), sebuah fase pelepasan total dari ikatan duniawi.
-
Insight Etika: Mengetahui makna kematian yang damai ini, ubahlah cara Anda menikmati karya seni ini. Silakan berfoto, namun tetaplah menjaga kesopanan dan ketenangan. Jangan berteriak-teriak di area ini, karena ini adalah altar peribadatan yang suci.
4. Arsitektur Akulturasi: Sentuhan Majapahit yang Kental
Berbeda dengan vihara pada umumnya yang didominasi oleh warna merah terang, ornamen naga, atau gaya arsitektur Tiongkok yang kental, tempat ini memilih jalur yang jauh lebih membumi dengan budaya lokal.
-
Fakta & Data: Bangunan utama vihara (Dhammasala) menggunakan atap berbentuk Joglo khas Jawa. Lebih dari itu, dinding dan fondasinya didominasi oleh susunan batu bata merah ekspos, meniru gaya arsitektur candi-candi peninggalan Kerajaan Majapahit seperti Candi Brahu yang letaknya tak jauh dari sana.
-
Tips Berbusana: Karena mengusung konsep tempat ibadah yang menyatu dengan budaya Timur yang menjunjung kesopanan, pastikan Anda memakai pakaian yang menutupi bahu dan lutut saat memasuki area bangunan utama.
5. Relief Dinding Belakang: Komik Batu Lintas Zaman
Kebanyakan wisatawan hanya berpusat di bagian depan patung Buddha Tidur lalu segera pulang. Sebenarnya, mereka melewatkan sebuah galeri seni terbuka yang luar biasa indah di bagian belakang patung.
-
Fakta & Data: Terdapat puluhan panel relief yang dipahat dengan sangat detail di dinding belakang area patung. Relief ini menceritakan riwayat hidup Buddha Gautama, hukum karma, serta diselingi dengan ukiran bernuansa keseharian masyarakat Jawa kuno.
-
Insight Penjelajahan: Jangan hanya lewat begitu saja. Berjalanlah perlahan dari ujung ke ujung. Jika memungkinkan, bacalah literatur singkat tentang kisah Siddhartha sebelum datang, agar Anda bisa “membaca” cerita di balik dinginnya ukiran batu tersebut.
6. Waisak di Trowulan: Puncak Harmoni yang Nyata
Jika Anda ingin melihat tingkat toleransi yang paling epik, datanglah ke Trowulan saat perayaan Hari Raya Waisak tiba. Suasana desa akan berubah menjadi festival cahaya yang sangat magis.
-
Fakta & Data: Ribuan umat Buddha dari berbagai penjuru Nusantara akan berkumpul di sini. Yang paling luar biasa, para pemuda Muslim dari desa setempat, termasuk organisasi masyarakat lokal, selalu turun tangan menjadi sukarelawan untuk mengatur parkir, menjaga keamanan, dan membagikan konsumsi.
-
Tips Kunjungan Khusus: Apabila Anda berniat melakukan wisata religi atau budaya saat Waisak, datanglah lebih awal. Jalanan desa biasanya ditutup untuk kendaraan roda empat, sehingga Anda harus bersiap berjalan kaki cukup jauh menuju lokasi acara.
Kesimpulannya, bangsa kita tidak pernah kekurangan teladan tentang bagaimana hidup berdampingan. Bebatuan candi dan patung emas di Mojokerto ini adalah saksi bisu bahwa perbedaan keyakinan bukanlah halangan untuk saling merangkul.
Merawat dan memahami Toleransi di Trowulan: Maha Vihara Mojopahit dan Patung Buddha Tidur adalah bukti nyata bahwa warisan kebesaran Majapahit masih berdetak kuat di dada masyarakatnya. Jadi, kapan Anda akan meluangkan waktu akhir pekan untuk menyaksikan sendiri harmoni Nusantara ini? Jangan lupa siapkan kamera dan senyum terbaik Anda!